Kumpulan Cerita Seks 2016,Cerita Seks ABG,Cerita Seks Pemerkosaan,Cerita Panas,Cerita Dewasa,Foto Hots,Foto Bugil - Cerita Panas –
Di Paksa Ngentot Oleh Tante Linda – cerita seru sex dewasa panas mesum ngentot terbaru yang banyak di cari dan di baca oleh para penggemar cerita dewasa.
Mendung masih menggayut di luar sana, saat kualihkan pandangan dari
mikroskop keluar menembus jendela kaca besar yang tertutup dengan rapat
dan gedung-gedung tinggi di kejauhan tampak samar-samar. Mungkin sudah
turun hujan di daerah sana. Masih terasa dingin juga, walaupun di luar
belum turun hujan.
Jam dinding di depan sana baru menunjukkan pukul 13:45, berarti masih
ada sekitar 15 menit lagi sebelum jam praktikum ini selesai. Seluruh
slide preparat sudah kupelajari dan rasanya tidak ada masalah. Seluruh
jenis kuman yang ada sudah kukenal. Hanya memang ada 1 preparat yang
mungkin sudah tua sehingga agak sulit untuk dilihat, namun akhirnya
dapat juga, walaupun membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk
mencarinya.
Tiba-tiba timbul rasa isengku untuk minta bantuan Caroline melihat
preparat itu, soalnya pikiranku juga lagi suntuk, sekalian ingin
memantapkan keyakinanku.
“Carol, bantu gue dong. Ini preparat apaan sih? Gue susah nih ngeliatnya,” begitu pintaku pada doi.
Caroline nama lengkapnya. Biasanya kupanggil Carol saja. Doi ini anak
Surabaya asli. Tubuhnya lumayan besar tetapi cukup proporsional
menurutku. Tinggi badannya sekitar 170 cm. Sangat tinggi untuk cewek
Indonesia dan yang pasti doi ini punya buah dada yang sangat besar
menurutku, seperti buah kelapa mendekati pepaya. Nah, bingung kan anda
membayangkannya? Otak doi cukup lumayan berdasarkan pengamatan 2 tahun
ini terhadapnya, soalnya dari angka-angka yang diumumkan pada tiap kali
kami ujian, doi berada di ranking atas kalau tidak A, ya B.

Oh ya, sistem ujian kami adalah kenaikan tingkat, jadi tidak ada yang
namanya SKS. Pokoknya pegang saja mata kuliah pokok dan lulus, maka kami
dapat naik tingkat. Asal yang minornya tidak jeblok banget. Terus ada
enaknya lagi kalau sudah lulus tingkat 2 pasti jadi, maksudnya jadi
dokter. Tidak ada lagi DO (drop out). Mau kuliah 10 tahun, lima belas
tahun atau sampai bosan. Tetapi sekarang sudah diganti kurikulumnya
menjadi sistem SKS yang membuat semakin susah kali ya?
“Apaan sich.. sini!” pinta doi menanggapi permintaanku.
Terus doi putar mikroskopku ke arahnya, soalnya doi duduknya di depanku,
jadi kalau doi mau membantuku tinggal putar badan terus berhadapan.
Hanya terhalang oleh ujung meja yang sedikit dibuat tinggi untuk
meletakkan stop kontak dan reagen pewarnaan saja. Jadi doi membantuku
memperlihatkan mikroskop itu sambil nungging.
“Busyet..,” tuch toket sekarang pas sekali bisa kulihat dari atas
bajunya, soalnya doi memakai baju yang agak longgar terus nungging, jadi
bisa terlihat dari ketinggian dengan leluasa. Tetapi kuperhatikan tidak
ada bra-nya, terus turun ke bawah tetap tidak kelihatan ada bra-nya.
Tetapi pentil susunya juga tidak keliatan. Membuat penasaran saja. Kalau
bisa kuremas mau aku melakukannya, apalagi kalau diberikan gratis,
betul tidak? Jadi semakin penasaran. Doi ini memakai bra, apa tidak ya?
Tetapi kulihat samping kanan dan kirinya juga tidak terlihat ada tali
bra-nya. Anehnya, kalau doi tidak pakai, masa doi berani? pikirku. Otak
memang mikir tetapi adikku yang di bawah tidak mikir lagi kali ya?
Soalnya langsung kencang saja minta perhatian yang lebih. Eh, lama-lama
sakit juga. Salah setel kali ya? Jadi ya gitu, dengan gaya seadanya
tetapi tanpa menarik perhatian publik tentunya, kukemudikan dulu ke
jalur yang benar sehingga tidak mengganggu konsentrasi.
Kira-kira 7-8 menit, akhirnya, “Fran, ini kayanya BTA? Tapi gue ngga
yakin betul, eloe liat deh nih, gue udah passin,” begitu lapor doi.
Dalam hati aku, “Memang betul BTA,” jadi ternyata benar keyakinanku.
Apalagi dari 32 preparat yang ada memang kuman itu yang tidak ada di
sediaan lainnya. Tetapi untuk menghormati doi, sekaligus menutup rasa
dosaku, sudah melihat pemandangan indah dengan gratis, kemudian aku
bangun dan memutari meja untuk melihat hasil pemeriksaan yang
ditunjukkan oleh doi. Benar, seperti dugaanku. Ya sudah. Tidak lama
terus bel bunyi. Kemudian, aku dan teman-teman lainnya mulai membereskan
peralatannya dan memasukkannya ke lemari masing-masing, sebab baru
dipertanggungjawabkan nanti di akhir semester untuk serah terima ke
dosen pengajar labnya. Tidak lama kemudian kami keluar ruangan lab
praktikum.
Eh, ketika aku sudah di dalam lift untuk turun ke bawah. Sandro, temanku menegurku.
“Fran, jadi ngga?” tanya Sandro. Bertanya apa memaksa, aku jadi bingung.
“Jadi Dro,” seruku setelah sempat termenung sejenak.
“Tolong bilangin ke temen-temen,” lanjutku kemudian sebelum pintu lift
itu tertutup dan masih sempat kulihat Sandro mengacungkan ibu jarinya ke
atas yang berarti dia mengerti dan menangkap pesanku.
Sampai di bawah, wuiih ramai sekali. Semua anak-anak berkumpul. Biasa,
jam-jam seperti ini anak FE, FIA dan FH baru saja mau masuk kuliah.
Biasanya anak FKIP, khususnya yang Psikologi lebih sore lagi. Gedung FK
ini tepat di tengah-tengah, jadi anak-anak dari Fakultas lain suka
berkumpul di bawah, mereka sedang duduk-duduk. Setelah memesan makanan
kesukaanku, yaitu satekambing untuk mengisi perut yang hanya sempat
diisi pagi tadi dengan semangkok soto Madura, kucari tempat duduk dan
kulihat ada Sandra sedang makan sendirian.
“San, kosong nich?” tanyaku padanya seraya duduk persis di depannya.
Sebenarnya meja ini cukup untuk berempat, tetapi doi hanya sendirian.
“He eh,” jawabnya singkat dan cukup judes menurut ukuranku.
Anak itu boleh dibilang cantik. Tidak terlalu tinggi, sekitar 165 cm
dengan tubuh sedang ideal. Kulitnya putih dengan rambut yang selalu
dipotong sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang, seakan
memberikan kesan sabar, tetapi yang sering dibicarakan teman-teman
adalah judesnya itu yang membuatku juga kadang-kadang tidak betah.
Untungnya, aku tipe orang yang easy going, jadi jarang dimasukkan ke
hati. Percuma buat kepala pusing. Tetapi yang aku harus angkat topi sama
doi, otaknya, sangat encer. Sebetulnya doi masih muda, tetapi katanya
waktu SD sempat loncat kelas, jadi saat ini doi masih berusia 17 tahun.
Bayangkan, umur 17 tahun sudah tingkat II FK. Aje gilee!
“Kok manyun San?” tanyaku basa-basi sedikit sebelum mulai makan, sebab kulihat juga raut wajah doi agak sepet.
“Ngapain tadi eloe tanya-tanya ke Carol, apa eloe sendiri ngga bisa liat?” tanyanya ketus sekali.
Kaget juga aku, aku di ketusin seperti ini. Tetapi memang benar
feelingku, anak ini rasanya agak menaruh hati padaku. Tetapi bagaimana
ya? Masalahnya aku belum ingin, paling tidak untuk saat ini. Masalahnya
konsentrasiku saat ini adalah ingin jadi dokter dulu. Apalagi aku masih
ingin happy-happy saja dulu. Jadi aku tidak tanggapin serius pertanyaan
doi.
Tetapi kujawab, “Oh.. bener San, soalnya tuh preparat udah lama kali
yah, jadi kaga bagus lagi dan susah bener ngeliatnya. Tapi udah gue
tandain kok. Pokoknya ada bunderan kecil di kanan bawah pake tinta
hitam, itu adalah BTA (Basil Tahan Asam, biangnya penyakit TBC). Ingat
lho di kanan bawah ada bunderan kecilnya. Terus..” Belum sempat
kujelaskan semua, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dan bilang, “Jam
berapa?”
“Eh.. eloe Ky, bentar yah, abis gue makan nih,” jawabku dengan penuh
rasa syukur karena jadi sekarang kami tidak berdua saja dengan Sandra.
Minimal ada pihak ketiga.
“Ngga.. ngga.. ngga..,” tiba-tiba Sandra nyeletuk dengan nada tinggi dan
cukup keras mengatasi kebisingan yang ada di kantin ini, saat Ricky
hendak duduk di sampingku.
“San, sebentar..,” pinta Ricky sejurus kemudian, karena doi juga
terkejut dengan ucapan Sandra yang demikian tajam dengan nada tinggi.
“Ngga.. ngga.. eloe ngerokok,” sahutnya ketus.
Ricky memandangku meminta persetujuan, tetapi aku sedang malas berdebat,
jadi aku hanya angkat bahu dan melanjutkan makan siangku secepatnya,
biar tidak terlalu lama.
Selesai makan, aku cepat-cepat pergi. Peduli amat, walaupun Sandra
sepertinya masih sangat kesal, doi pikir aku tolol sekali ya. Tetapi
tidak peduli, yang penting aku selamat. Betul, tidak? Di lapangan basket
tempat biasa geng aku berkumpul, sudah kulihat cukup lengkap juga
anggotanya. Siang hari yang mendung ini masih sempat kulihat si Paul
melakukan lay-up terakhirnya sebelum kuberteriak untuk berangkat.
Kami berenam, Sandro, Ricky, Paul, Hengky, Mardi yang sudah punya kerja
sambilan. Saat ini kami menuju tempat kostnya Mardi dan terus ke kostku
sendiri. Kami berjalan menyusuri gang-gang sempit di sekitar kampus ini.
Kemudian, tidak lama kami sampai dan langsung naik ke atas, kamarnya
Mardi ada di lantai dua. Di atas sini, seluruhnya ada 12 kamar.
Maksudnya, 6-6 saling berhadapan. Umumnya satu kamar untuk berdua,
tetapi Mardi mengambil 1 kamar untuk dia sendiri. Katanya dia tidak bisa
belajar serius kalau ada teman sekamar, apalagi kalau dari lain
jurusan, begitu alasannya. Bener apa tidak, silakan perkirakan sendiri.
Sebelum masuk ke kamar Mardi, aku masih sempat memperhatikan kamar di
sebelah Mardi. Masih gelap dan sepi, barangkali mereka belum pada
pulang.
Di kamar Mardi, wuuiih.. hampir seluruh dinding kamarnya penuh dengan
poster dari ukuran yang kecil sampai sebesar meja belajar. Gambarnya
memang tidak terlalu seru, seadanya. Kesanku sih begitu, berantakan
tidak karuan. Yang penting menempel. Di situ ada gambar Madonna, Prince,
Michael Jackson, terus artis-artis dari yang tidak terkenal dari Hong
Kong dan juga Indonesia seperti: Yatti Octavia dan beberapa gambar
pemain sepakbola yang aku tidak ketahui namanya.
Maklum, aku bukan penggemar bola. Setelah kamar dikunci, Mardi
memberikan contoh dengan mengupas perlahan gambar poster tadi di dinding
yang terbuat dari kayu itu, dan segera menempelkan matanya pada lubang
yang ada di balik poster itu. Ya sudah, kami berebutan mencari poster
yang tentunya sesuai dengan ukuran tinggi tubuh kami. Dan, Ya ampun.
Hampir di balik seluruh poster yang tertempel di dinding itu kebanyakan
ada lubang untuk mengintip ke kamar sebelah. Aku sendiri memilih-milih
lubang, satu cukup tinggi dan satunya lagi di bawah, yang kalau kami
lihat harus berjongkok atau setengah tiduran.
Yang lain juga sudah mendapatkan posisinya masing-masing. Dari balik
lubang tempatku melihat tampak kamar di sebelah tertata dengan apik. Di
seberang sana menempel ke dinding kanan ada ranjang, kemudian di
sampingnya ada meja komputer, sedangkan yang di sebelah kiri ada pintu
lagi, kamar mandi. Dari lubang di bawah, aku tidak dapat melihat banyak.
Mungkin tepat di kolong meja. Meja belajar maksudnya.
“Mar, jam berapa?” tanyaku, “ngga sabar nich.” sambil tiduran di lantai,
sementara lampu di kamar tetap padam dan suasananya hening sekali.
“Sebentar lagi, biasanya sich jam-jam segini,” sahutnya bingung.
Eh, benar. Tidak lama terdengar pintu kamar ruang sebelah di buka dan
setelah kami menunggu agak lama sedikit, perlahan-lahan kami mulai
beraksi dengan membuka poster-poster sesuai pilihan kami masing-masing.
Di kamar sebelah, kulihat ada cewek yang lagi minum langsung dari
botolnya, dan tampak lehernya yang putih mulus dengan gerakan halus dari
jakun yang sedang bekerja melancarkan air tersebut masuk ke
tenggorokannya.
SEKIAN