Cerita Dewasa Keluar Di Memek Becek Tante –Perkenalkan
namaku Hajack biasa kalau dipanggil si Jack, aku dari keluarga yang
tidak mampu aku anak petama dari 5 bersaudara, aku ikut ibu ku dia
mempunyai kulit putih seperti akum dengan tinggi badanku 179 cm.
Wajahku indo gak tau kenapa aku juga bingung padahal bapakku asli
jawa Indonesia dan ibu juga, sejarah ibu ternyata dia pernah menjadi TKI
di USA sebagai pembantu rumah tangga, waktu itu dia memnjadi baby
sister unutk majikanya, seingkat cerita ibuku hamper 2 tahun tinggal
disana dimana pernah diperkosa oleh orang bule.
Karena trauma ibuku langsung pulang keindonesia dan menikah dengan
ayahku itulah sejarah kenapa aku kayak orang indo/bule. Okey sorry
terlalu panjang pendahuluannya, kita langsung saja ke ceritanya.
Kejadian ini bermula dimana saya memiliki pacar yang sangat cemburu dan
sayang sama saya, maka saya dianjurkan mengontrak rumah di rumah
tantenya yang tentunya berdekatan dengan rumahnya.

Saya bekerja di salah satu perusahaan Asing yang berkecimpung di
Akuntan Public yang terkenal dan ternama, maka saya mendapatkan uang
yang secukupnya untuk membiayai adik saya 5 orang yang sedang kuliah di
Jakarta.
Dan untung saja 3 orang masuk UI dan 2 orang masuk IPB, maka dengan
mudah saya bayar uang semesterannya. Sedangkan saya sendiri hanya
membutuhkan uang makan dan ongkos, dimana saya tinggal di kawasan Bogor
yang terkenal dengan hujannya.
Setelah dua tahun saya mengontrak di rumah yang sampai sekarang juga
masih saya tempati, terjadilah kejadian ini. Dimana waktu itu kelima
adik saya pulang kampung karena liburan panjang ke Kalimantan, sedangkan
saya yang kerja tidak dapat pulang kampung dengan mereka, maka
tinggallah saya seorang diri di Jakarta.
Waktu itu tepat hari Sabtu, dimana Om Boyke atau suami Tante Githa
ini biasanya kerja pada hari Sabtu, maklum dia adalah pegawai swasta dan
sering juga ke lapangan dimana dia bekerja di perminyakan di lepas
pantai. Jadi waktu itu Om Boyke ke lapangan dan tinggallah Tante Githa
sendirian di rumah.
Tante Githa telah menikah, tetapi sudah lama tidak mendapatkan anak
hampir sudah 8 tahun, dan hal itu menjadi pertanyaan siapa yang salah,
Tante Githa apa Om Boyke. Okey waktu itu tepatnya malam Sabtu hujan di
Bogor begitu derasnya yang dapat menggoda diri untuk bermalas-malas.
Secara otomatis saya langsung masuk kamar tidur dan langsung tergeletak.
Tiba-tiba Tante Githa memanggil, “Jack.. Jack.. Jack.. tolong dong..!”
Saya menyahut panggilannya, “Ada apaan Tante..?”
“Ini lho.. rumah Tante bocor, tolong dong diperbaiki..!”
Lalu saya ambil inisiatif mencarikan plastik untuk dipakai sementara
supaya hujannya tidak terlalu deras masuk rumah. 10 menitan saya
mengerjakannya, setelah itu telah teratasi kebocoran rumah Tante
Githa.Kemudian saya merapikan pakaian saya dan sambil duduk di kursi
ruang makan.
Terus Tante Githa menawarkan saya minum kopi, “Nih.., biar hangat..!”
Karena saya basah kuyup semua waktu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.
Saya jawab, “Okelah boleh juga, tapi saya ganti baju dulu ke rumah..” sambil saya melangkah ke rumah samping.
Saya mengontrak rumah petak Tante Githa persis di samping rumahnya.
Tidak berapa lama saya kembali ke rumah Tante Githa dengan mengenakan
celana pendek tanpa celana dalam. Sejenak saya terhenyak menyaksikan
pemandangan di depan mata, rupanya disaat saya pergi mandi dan ganti
baju tadi, Tante Githa juga rupanya mandi dan telah ganti baju tidur
yang seksi dan sangat menggiurkan.
Tapi saya berusaha membuang pikiran kotor dari otak saya. Tante Githa
menawarkan saya duduk sambil melangkah ke dapur mengambilkan kopi
kesenangan saya. Selang beberapa lama, Tante Githa sudah kembali dengan
secngkir kopi di tangannya.
Sewaktu Tante Githa meletakkan gelas ke meja persis di depan saya,
tidak sengaja terlihat belahan buah dada yang begitu sangat menggiurkan,
dan dapat merangsang saya seketika. Entah setan apa yang telah hinggap
pada diri saya.
Untuk menghindarkan yang tidak-tidak, maka dengan cepat saya berusaha
secepat mungkin membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedang melanda
diri saya.
Tante Githa memulai pembicaraan, “Giman Jack..? Udah hilang dinginnya, sorry ya kamu udah saya reporin beresin genteng Tante.”
“Ah.. nggak apa-apa lagi Tante, namanya juga tetangga, apalagi saya
kan ngontrak di rumah Tante, dan kebetulan Om tidak ada jadi apa
salahnya menolong orang yang memerlukan pertolongan kita.” kata saya
mencoba memberikan penjelasan.
“Omong-omong Jack, adik-adik kamu pada kemana semua..? Biasanya kan udah pada pulag kuliah jam segini,”
“Rupanya Tante Githa tidak tau ya, kan tadi siang khan udah pada berangkat ke Kalimantan berlibur 2 bulan di sana.”
“Oh.. jadi kamu sendiri dong di rumah..?”
“Iya Tante..” jawab saya dengan santai.
Terus saya tanya, “Tante juga sendiri ya..? Biasanya ada si Mbok.., dimana Tante?”
“Itu dia Jack, dia tadi sore minta pulang ke Bandung lihat cucunya
baru lahir, jadi dia minta ijin 1 minggu. Kebetulan Om kamu tidak di
rumah, jadi tidak terlalu repot. Saya kasih aja dia pulang ke rumah
anaknya di Bandung.” jelasnya.
Saya lihat jam dinding menunjukkan sudah jam 23.00 wib malam, tapi
rasa ngantuk belum juga ada. Saya lihat Tante Githa sudah mulai menguap,
tapi saya tidak hiraukan karena kebetulan Film di televisi pada saat
itu lagi seru, dan tumben-tumbennya malam Sabtu enak siarannya, biasanya
juga tidak.
Tante Githa tidak kedengaran lagi suaranya, dan rupanya dia sudah
ketiduran di sofa dengan kondisi pada saat itu dia tepat satu sofa
dengan saya persis di samping saya.
Sudah setengah jam lebih kurang Tante Githa ketiduran, waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.35.
“Aduh gimana ini, saya mau pulang tapi Tante Githa sedang ketiduran, mau pamitan gimana ya..?” kata saya dalam hati.
Tiba-tiba saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat.
Dimana Tante Githa dengan posisi mengangkat kaki ke sofa sebelah dan
agak selonjoran sedang ketiduran, dengan otomatis dasternya tersikap dan
terlihat warna celananya yang krem dengan godaan yang ada di depan
mata. Hal ini membuat iman saya sedikit goyang, tapi biar begitu saya
tetap berusaha menenangkan pikiran saya.
Akhirnya, dari pada saya semakin lama disini semaking tidak
terkendali, lebih baik saya bangunkan Tante Githa biar saya permisi
pulang. Akhirnya saya beranikan diri untuk membangunkan Tante Githa
untuk pulang. Dengan sedikit grogi saya pegang pundaknya.
“Tan.. Tan..”
Dengan bermalas-malas Tante Githa mulai terbangun. Karena saya dengan
posisi duduk persis di sampingnya, otomatis Tante Githa menyandar ke
bahu saya. Dengan perasaan yang sangat kikuk, tidak ada lagi yang dapat
saya lakukan. Dengan usaha sekali lagi saya bangunkan Tante Githa.
“Tan.. Tan..”
Walaupun sudah dengan mengelus tangannya, Tante Githa bukannya bangun, bahkan sekarang tangannya tepat di atas paha saya.
“Aduh gimana ini..?” gumam saya dalam hati, “Gimana nantinya ini..?”
Entah setan apa yang telah hinggap, akhirnya tanpa disadari saya
sudah berani membelai rambutnya dan mengelus bahunya. Belum puas dengan
bahunya, dengan sedikit hati-hati saya elus badannya dari belakang
dengan sedikit menyenggol buah dadanya.
Aduh.., adik saya langsung lancang depan. Dengan tegangan tinggi,
nafsu sudah kepalang naik, dan dengan sedikit keberanian yang tinggi,
saya dekatkan bibir saya ke bibirnya. Tercium sejenak bau harum
mulutnya.
Pelan-pelan saya tempelkan dengan gemetaran bibir saya, tapi anehnya
Tante Githa tidak bereaksi apa-apa, entah menolak atau menerima. Dengan
sedikit keberanian lagi, saya julurkan lidah ke dalam mulutnya. Dengan
sedikit mendesah, Tante Githa mengagetkan saya. Dia terbangun, tapi
entah kenapa bukannya saya ketakutan malah keluar pujian.
“Tante Githa cantik udah ngantuk ya..? Mmuahh..!” saya kecup bibirnya dengan lembut.
Tanpa saya sadari, saya sudah memegang buah dadanya pada ciuman ketiga.
Tante Githa membalas ciuman saya dengan lembut. Dia sudah pakar soal
bagaimana cara ciuman yang nikmat, yaitu dengan merangkul leher saya dia
menciumi langit-langit mulut saya. 10 menit kami saling berciuman, dan
sekarang saya sudah mengelus-elus buah dadanya yang sekal.
“Ahk.. ahk..!” dengan sedikit tergesa-gesa Tante Githa sudah menarik
celana saya yang tanpa celana dalam, dan dengan cepat dia menciumi
kepala penis saya.
“Ahkk.. ah..!” nikmatnya tidak tergambarkan, “Ahkk..!”
Saya pun tidak mau kalah, saya singkapkan dasternya yang tipis ke
atas. Alangkah terkejutnya saya, rupanya Tante Githa sudah tidak
mengenakan apa-apa lagi di balik dasternya. Dengan agak agresif saya
ciumi gunung vaginanya, terus mencari klistorisnya.
“Akh.. akh.. hus..!” desahnya.
Tante Githa sudah terangsang, terlihat dari vaginanya yang membasah. Saya harus membangkitkan nafsu saya lebih tinggi lagi.
30 menit sudah kami pemanasan, dan sekarang kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benang pun yang lengket di badan kami.
Tanpa saya perintah, Tante Githa merenggangkan pahanya lebar-lebar,
dan langsung saya ambil posisi berjongkok tepat dekat kemaluannya.
Dengan sedikit gemetaran, saya arahkan batang kemaluan saya dengan
mengelus-elus di bibir vaginanya.
“Akh.. huss.. ahk..!” sedikit demi sedikit sudah masuk kepala penis saya.
“Akh.. akh..!” dengan sedikit dorongan, “Bless.. ss..!” masuk semuanya batang kejantanan saya.
Setelah saya diamkan semenit, secara langsung Tante Githa
menggoyang-goyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa diperintah
lagi, saya maju-mundurkan batang kemaluan saya.
“Akh.. uh.. terus Sayang.., kenapa tidak dari dulu kamu puasin
Tante..? Akh.. blesset.. plup.. kcok.. ckock.. plup.. blesset.. akh..
aduh Tante mau keluar nih..!”
“Tunggu Tante, saya juga udah mau datang..!”
Dengan sedikit hentakan, saya maju-mundurkan kembali batang kemaluan saya.
Sudah 15 menit kami saling berlomba ke bukit kenikmatan, kepala penis
saya sudah mulai terasa gatal, dan Tante Githa teriak, “Akh..!”
Bersamaan kami meledak, “Crot.. crot.. crot..!” begitu banyak mani saya muncrat di dalam kandungannya.
Badan saya langsung lemas, kami terkulai di karpet ruang tamu.
Tante Githa kemudian mengajak saya ke kamar tamu. Sesampainya disana
Tante Githa langsung mengemut batang kemaluan saya, entah kenapa penis
saya belum mati dari tegangnya sehabis mencapai klimaks tadi. Langsung
Tante Githa mengakanginya, mengarahkan kepala penis saya ke bibir
vaginanya.
“Akh.. huss..!” seperti kepedasan Tante Githa dengan liarnya menggoyang-goyangkan pinggulnya.
“Blesset.. crup.. crup.. clup.. clopp..!” suara kemaluannya ketika dimasuki berulang-ulang dengan penis saya.
30 menit kami saling mengadu, entah sudah berapa kali Tante Githa orgasme. Tiba saatnya lahar panas mau keluar.
“Crot.., crot..!” meskipun sudah memuncratkan lahar panas, tidak
lepas-lepasnya Tante Githa masih menggoyang pantatnya dengan teriakan
kencang, “Akh..!”
Kemudian Tante tertidur di dada saya, kami menikmati sisa-sisa
kenikmatan dengan batang kejantanan saya masih berada di dalam vaginanya
dengan posisi miring karena pegal. Dengan posisi dia di atas,
seakan-akan Tante Githa tidak mau melepaskan penis saya dari dalam
vaginanya. Begitulah malam itu kami habiskan sampai 3 kali bersetubuh.
Jam 5 pagi saya ngumpat-umpat masuk ke rumah saya di sebelah, dan
tertidur akibat keGithahan satu malam kerja berat. Begitulah kami
melakukan hampir setiap malam sampai Om itu pulang dari kerjanya.
Dan sepulangnya adik saya dari Kalimantan, kami tidak dapat lagi
dengan leluasa bercinta. Begitulah kami hanya melakukan satu kali. Dalam
dua hari itu pun kami lakukan dengan menyelinap ke dapurnya. Kebetulan
dapurnya yang ada jendela itu berketepatan dengan kamar mandi kami di
rumah sebelahnya.
3 bulan kemudian Tante Githa hamil dan sangat senang. Semua
keluarganya memestakan anak yang mereka tunggu-tunggu 8 1/2 tahun. Tapi
entah kenapa, Tante Githa tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai
kadungannya, dan kami masih melakukan kebutuhan kami.
END