Kumpulan Cerita Sex , Cerita Seks Dewasa, Cerita Dewasa , Cerita Seks , Cerita Seks Remaja , Cerita Sex Sedarah , Cerita Sex Hot, : Cerita Seks Horny Setelah dari Bioskop.
Karena hornyku saat aku didalam bioskop dengan pacarku, aku inisiatif
maen ke kosnya temenku,yang bernama Raisha Tak kusangka saat aku bermain
dikosnya aku mengintip dan dia sedang duduk diranjang, tangannya yang
kanan Nampak sedang meraba raba vaginya tertanda dia juga sedang sange.
 |
| Cerita Seks Horny Setelah dari Bioskop |
Nonton Video Semi Bokep
- Film Semi china 浪漫情欲 [DEWASA18+]
- Film Semi korea movies18+ The Princess
- Film Semi Hot Movie XXX Dream girl
- Film Semi Bioskop Online Play Angel ( 蒼井そら - Sora Aoi )
Sedangkan yang tangan kiri sedang memilin milin payudaranya sendiri. Aku
melihatnya sempat shock.
Gadis cantik Raisha itu berumur 19 tahun dan baru saja menginjak
semester 3 di salah satu perguruan tinggi yang cukup bonafit di kota
tersebut.
Saat ini Reisha memang sedang dilanda birahi karena memang sebentar lagi
dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi
seorang gadis seperti Reisha memang menjadi saat dimana libido sedang
tinggi-tingginya.
Sebagai seorang jomblo, tentunya Reisha tidak memiliki pasangan yang
bisa ia ajak menyalurkan hasrat birahinya. Maka dari itu masturbasi pun
menjadi satu-satunya cara yang paling efektif sebagai penyaluran
birahinya saat ini.
Kedua mata Reisha nampak terpejam mencoba untuk menghayati rabaan demi
rabaan yang ia lakukan sendiri pada tubuhnya. Sesekali desahan kecil
terdengar dari mulut gadis cantik tersebut, ketika rabaannya menyentuh
puting dan klitorisnya sendiri.
Namun ketika semua usahanya ini hampir memperoleh hasil, tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu di depan pintu kamar kos Reisha.
Tok tok tok!.
Sial!, runtuk Reisha di dalam hati. Kenapa mesti di saat seperti ini ada
tamu yang datang ke kosannya, benar-benar sial!, runtuk gadis itu lagi.
Tok tok tok! Sha!!, suara ketokan di pintu kenbali terdengar, kini
ditambah dengan suara teriakan seorang gadis.
Sebentar!, teriak Reisha.
Dengan segera gadis cantik tersebut mengancingkan kembali kaitan branya dan mengenakan celana dalamnya.
Ya, sebentar!, teriak Reisha lagi sambil merapikan posisi celana pendek dan kaosnya.
Setelah merapikan pakaian dan sedikit mengusap-usap wajahnya di depan
cermin yang terlihat sedikit memerah akibat menahan nafsu, gadis itu pun
kemudian membuka pintu.
Haii lama amat sih bukanya?, di depan pintu berdiri seorang gadis yang
tak kalah cantik jika dibandingkan dengan Reisha.
Gadis itu seumuran dengan Reisha dan merupakan temen satu kampusnya. Gadis itu bernama Shelvi.
Eh iya, sorry tadi lagi di kamar mandi sih, Reisha mencoba menutupi aktifitas yang tadi ia lakukan di dalam kamar.
Ternyata Shelvi tidak sendiri. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berwajah tampan.
Rambut laki-laki itu tercukur rapi. Dari penampilannya terlihat ia cukup
perlente. Mungkin ia adalah pacar Shelvi, pikir Reisha dalam hati.
O iya, ini Rico cowok gue, Shelvi memperkenalkan laki-laki yang berada
di belakangnya tersebut.
Rico, laki-laki itu kemudian menyodorkan tangan kanannya.
Reisha pun membalasnya, Reisha.
Kedua tangan mereka pun saling berjabatan tangan.
Kok tumben nih? Ada apa Vi?, tanya Reisha kepada sahabatnya.
Gue mau ngomong bentar ama lu dong.
Reisha mengerutkan keningnya.
Ric, lu tunggu di sini aja dulu ya, Shelvi berucap ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun hanya mengangguk.
Lalu Shelvi menarik tangan Reisha untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Di
dalam mereka duduk di atas ranjang.
Ada apa sih Vi?, Reisha kembali mengulangi pertanyaannya.
Shelvi menetakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menandakan agar
Reisha menurunkan volume suaranya. Ia pun kemudian berbisik, Gini Sha,
gue mau pinjem kamar lu bentar dong.
Ah? Buat apa?, bisik Reisha penuh kecurigaan.
Gue mau gituan ama cowok gue, Shelvi berkata sambil memberikan isyarat
tangan dengan memasukkan ibu jarinya diantara jari telunjuk dan jari
tengahnya.
Reisha benar-benar tersentak melihat isyarat tangan sahabatnya tersebut.
Tanda tersebut sering ia lihat setiap kali Shelvi ingin menyamarkan
kata making love. Bukan tanda itu yang mengejutkan Reisha, karena ia
tahu benar kalau memang sahabatnya ini sudah sering melakukan perbuatan
terlarang tersebut dengan pacar-pacarnya.
Yang membuatnya terkejut adalah kenapa ia memilih kamar kosnya ini untuk berbuat mesum.
Gila lu ya? Nggak boleh!, bentak Reisha sambil tetap berbisik.
Please Sha, gue udah nggak tahan nih, memiaw gue udah basah banget.
Ngapain lu nggak cari hotel aja?.
Nggak sempet, ntar lagi cowok gue musti ke bandara, ini juga sama sekali
nggak direncanain kok tiba-tiba dateng gitu aja waktu dia grepein gue
di bioskop.
Aduh gimana ya?, sebenarnya Reisha ingin mengatakan tidak, namun melihat
ekspresi wajah Shelvi yang begitu memelas ia pun menjadi bingung harus
memberi jawaban apa.
Please Sha, cowok gue cuma sehari ini aja bisa transit di sini, ntar
malem dia musti keluar kota lagi jadi waktu gue ama dia cuma bentar
banget nih.
Kalau ntar ada yang liat gimana? Kan gue malu juga tiba-tiba di kamar
kos gue ada cowoknya?, tempat kos Reisha ini memang hanya menerima
penghuni kos wanita, sehingga aturan tentang menerima tamu laki-laki
memang diatur sedikit ketat.
Sepi gini kok? Lagian gue nggak bakal lama kok, sueeer!!!, Shelvi mengacungkan jari tengah dan jadi telunjuknya bersamaan.
Reisha tambah bingung mendengar kata-kata sahabatnya ini.
Lu tu bener-bener gila tau nggak?, ucap Reisha masih tetap berbisik.
Please Sha, please.
Reisha kembali mengerutkan keningnya, menandakan kebingungan yang sedang melanda dirinya saat ini.
Please Sha, kembali Shelvi memelas.
iya deh, ucap Reisha ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata
persetujuan tersebut bisa keluar dari mulutnya.
Thanks Sha, lu emang temen gue yang paling baik.
Shelvi langsung memonyongkan bibirnya hendak mencium sahabatnya ini,
namun dengan segera Reisha menghentikan perbuatannya tersebut.
Horny sih horny, tapi lu jangan sosor gue kayak gitu dong!.
Hehehe sorry abis kalo lagi horny gue emang suka lupa diri sih.
Trus gue musti kemana dong?, Reisha kembali bingung. Tentu saja ia harus
bingung, karena jika kamarnya sedang dipakai oleh sahabatnya ini
tentunya ia tidak bisa berada di tempat yang sama juga bersama mereka.
Lu kemana kek, makan kek, nonton kek, nih gue kasi lu ongkos deh.
Shelvi mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari
dompetnya. Gadis cantik ini memang tergolong cukup beruntung untuk
bidang keuangan.
Memiliki orang tua seorang pengusaha sukses tentunya membuat isi
dompetnya hampir tidak pernah kosong, bahkan kalau tidak boleh dibilang
berlebih.
Hhhmm kemana ya?.
Reisha nampak mengerutkan dahinya.
Melihat sahabatnya belum juga beranjak dari tempatnya, langsung saja
Shelvi mengajukan protes, Udah ah lu pikirin sambil jalan aja! Dah
kebelet nih!.
Eh iya iya, Reisha langsung beranjak dari atas ranjang, disusul kemudian
oleh Shelvi.
Mereka berdua kemudian melangkah menuju pintu.
Ya udah kalo gitu gue keluar bentar ya Vi, Reisha melambaikan tangan ke
arah sahabatnya yang kini terlihat berdiri di depan pintu kamar kosnya.
OK, ati-ati ya Sha, Shelvi melempar sebuah senyum penuh makna, yang mana
hanya mereka berdua yang mengerti.
Sebelum beranjak, Reisha melempar senyum kecil juga ke arah laki-laki
yang diakui sebagai pacar oleh sahabatnya tersebut. Laki-laki itu pun
kemudian membalas dengan senyuman kecil pula. Lalu Reisha berjalan
menuju tempat parkir dimana semua sepeda motor para penghuni kos
terparkir
Setelah tiba di samping sepeda motornya, sekilas gadis cantik itu
menengok kembali ke arah kamar kosnya.
Tidak terlihat lagi Shelvi dan cowoknya disana. Bahkan kini pintu kamar
kosnya sudah tertutup rapat. Shelvi memang pernah bercerita tentang
cowok barunya, namun ia belum bertemu dengan pacar baru sahabatnya
tersebut secara langsung. Apakah cowok ini yang dimaksud oleh sahabatnya
tersebut? Ia sama sekali tidak tahu.
Hampir beberapa menit Reisha berdiri disamping sepeda motornya.
Mengetahui kalau saat ini mungkin sahabatnya sedang bercinta di dalam
kamar kosnya, justru membuat gairah di dalam dirinya yang tadi sempat
muncul kini kembali bergejolak.
Tak terasa vaginanya kembali berdenyut-denyut dan payudaranya terasa
mengeras seperti yang ia alami beberapa menit yang lalu ketika melakukan
masturbasi. Tiba-tiba di saat itu pula di dalam otak gadis cantik itu
terbersit sebuah ide gila untuk mengintip kegiatan sahabatnya tersebut
di dalam kamar.
Tidak etis memang mengintip sahabat sendiri yang sedang bercinta, namun
gejolak nafsu Reisha yang sudah tidak bisa tertahan lagi menghilangkan
semua pikiran waras di dalam otaknya.
Sha, lu nggak boleh ngelakuin itu, itu sama aja lu itu mempermalukan
sahabat lu sendiri!, suara kata hati malaikat di dalam diri Reisha
berteriak-teriak di telinga kanannya.
Halah liat dikit emang kenapa? Itu juga kan kamar lu Sha? Siapa suruh
ngent*t di kamar orang!, di saat yang sama suara kata hati iblis di
dalam dirinya pun juga tidak mau kalah terdengar menggema di telinga
kirinya.
Tetep nggak boleh Sha, lu harus menghargai privasi orang dong!.
Tai kucing tuh privasi! Sedeng asyik ngent*t gitu paling juga mereka
nggak bakal sadar lu intipin Sha!.
Nggak boleh!.
Boleh!.
Nggak bisa!.
Bisa!.
Suara hati malaikat dan iblis kini terus menggema di dalam kepada
Reisha, seakan-akan mencoba memberikan nasehat jalan terbaik yang harus
ia lakukan saat ini.
Udah udah udah pada bisa diem nggak sih?, Reisha menggeleng-gelengkan
kepalanya sambil berteriak di dalam batinnya. Kepalanya terasa mau pecah
mendengar kata hatinya sendiri yang terus berteriak-teriak di dalam
kepalanya secara bergantian. Setelah suara-suara itu tidak terdengar
lagi di kepalanya, Reisha menarik nafasnya panjang dan berdiam diri
sesaat.
Akhirnya gadis cantik itu pun memilih untuk mengendap-endap menuju kamar
kosnya sendiri. Saat ini sisi iblis Reisha pastilah sedang tertawa
lantang penuh kemenangan.
Jika saja ada yang melihat Reisha sedang berjalan mengendap-endap menuju
kamar kosnya sendiri seperti saat ini, tentu akan menimbulkan tanda
tanya dan kecurigaan.
Bersyukur sore ini tempat kos Reisha nampak begitu sepi, karena memang
diakhir pekan rata-rata penghuni kos kembali ke rumah mereka
masing-masing untuk bersua dengan keluarga. Sedangkan untuk penghuni kos
yang tidak kembali ke rumah seperti Reisha kini sebagian besar sedang
melaksanakan aktifitas mereka masing-masing di luar kosan.
Reisha sendiri masih berada di kosannya karena kebetulan siang tadi ia
harus mengambil kuliah tambahan sehingga akhirnya memilih tetap tinggal
di kosan.
Di depan jendela kamarnya, Reisha mencoba mencari celah yang terbuka
diantara tirai yang tertutup.
Memang ada sedikit celah yang tersisa, namun tidak cukup lebar untuk
bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Beberapa kali dari dalam kamar
terdengar tawa cekikikan kecil dan suara desahan manja. Suara tawa itu
pastilah suara Shelvi bersama pacarnya. Reisha masih terus berusha
mendongak-dongakkan kepalanya di depan jendela, sampai tiba-tiba.
Duaar!!!, tirai penutup jendela tersebut tersibak dan muncullah wajah
Shelvi dari balik jendela.
Wajah Reisha langsung terlihat merah padam karena ketahuan mengintip.
Belum hilang rasa terkejut Reisha, dengan santainya Shelvi menutup
kembali tirai tersebut dan kemudian gadis cantik itu keluar dari kamar
dengan tubuh hanya berbalut handuk hijau milik Reisha.
Daripada lu ngintipin gue, mending lu gabung aja.
Reisha begitu tersentak mendengar kata-kata sahabatnya tersebut. Saat ini ia merasa seperti tersambar petir puluhan ribu volt.
Vi, nggak! Jangan!, Reisha berusaha bertahan ketika Shelvi menarik tangan kanannya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Udah hayo!.
Nggak Vi!.
Hayo dong!, Shelvi terus memaksa.
Setelah cukup lama saling menarik tangan masing-masing akhirnya Reisha
pun tidak kuat lagi melawan tarikan sahabatnya itu. Ia pun tertarik
masuk ke dalam kamar.
Aaakkhh!, begitu masuk ke dalam kamar Reisha langsung berteriak dan
menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Bagaimana tidak berteriak.
Di atas ranjangnya kini terlihat seorang laki-laki sedang terduduk
santai dengan hanya mengenakan kaos tanpa tambahan apapun lagi sebagai
penutup bagian bawah tubuhnya. Di bagian selangkangan laki-laki tersebut
mengacung tegak sebuah batang yang berukuran sangat besar.
Halah, gaya lu tu kayak baru pertama kali aja ngeliat tongkol hehe,
Shelvi dengan santainya berkata seronok kepada sahabatnya tersebut
setelah menutup pintu kamar.
Wajah Reisha semakin memerah mendengar kata-kata Shelvi tersebut.
Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya ini, karena penis bukanlah
hal asing bagi mereka berdua. Namun dalam hal ini jelas berbeda.
Laki-laki yang kini terbaring di ranjangnya jelas-jelas baru saat ini ia
jumpai untuk pertama kalinya. Tentu akan sangat aneh apabila tiba-tiba
saja di saat itu juga ia harus melihat penis laki-laki yang baru saja ia
kenal tersebut.
Shelvi dengan santainya berjalan mendekati ranjang kemudian naik ke
atasnya. Ia lalu mencium bibir laki-laki tersebut sambil memeluknya.
Ric, Reisha mau gabung bareng kita nih, boleh ya?.
Laki-laki itu hanya tersenyum kecil,Boleh kok.
Shelvi membalas dengan senyuman pula.
Dikecupnya sekali lagi bibir pacarnya tersebut, kemudian beranjak turun
dari ranjang dan kembali mendekati Reisha. Reisha sendiri masih terlihat
berdiri mematung dengan ekspresi penuh kehampaan.
Ayo dong!, kembali Shelvi menyeret tangan Reisha mendekat menuju
ranjang.
Nggak Vi, gue nggak mau.
Halah, jangan malu-malu gitu ah! Norak tau.
Nggak Vi, bener gue nggak bisa, Reisha terus berusaha bertahan.
Shelvi pun akhirnya hanya melengos dan melepaskan tangan Reisha setelah
tidak mampu memaksa kembali sahabatnya tersebut untuk mendekati ranjang.
Ya udah, kalo gitu lu disini aja.
Shelvi kembali berjalan menuju ranjang.
Sebelum naik ke atas ranjang ia melepaskan handuk yang melilit tubuhnya.
Terlihatlah kini tubuh sintal itu hanya terbalut celana dalam putih
beraksen garis-garis pink. Rupanya sebelum memergoki Reisha tadi, mereka
berdua sudah sempat melepaskan beberapa lembar pakaian yang mereka
kenakan.
Pakaian-pakaian tersebut kini ada yang tergeletak di atas ranjang
ataupun di lantai kamar. Gadis cantik itu lalu merangkak naik ke atas
ranjang dan kembali memeluk tubuh pacarnya.
Lanjut yuk!.
Mereka berdua pun berciuman panas sambil beradu lidah. Tangan Rico pun
dengan cekatan meremas-remas payudara montok Shelvi.
Keduanya begitu menikmati percumbuan mereka seolah-olah di dalam kamar
hanya ada mereka berdua, tanpa memperdulikan kehadiran Reisha di sana.
Tak hanya meremas, kini puting payudara kanan Shelvi sudah berada
sepenuhnya di dalam kuluman Rico.
Shelvi pun akhirnya terpaksa remas-remas sendiri payudara kirinya karena
tangan Rico saat ini sibuk mengobok-obok selangkangannya yang masih
tertutupi celana dalam. Selangkangan yang sebelumnya telah basah itu pun
kini nampak semakin basah.
Aaahh oooh, Shelvi sengaja mendesah sesensual mungkin sambil menatap ke
arah Reisha yang masih berdiri di dekat pintu.
Ooohh aaah, kini Shelvi memasang ekspresi wajah penuh kenikmatan
seolah-olah menikmati betul kuluman di payudaranya dan permainan tangan
Rico di selangkangannya. Shelvi tersenyum kecil ketika melihat Reisha
yang sudah mulai nampak berdiri gelisah sambil menggesek-gesekkan kedua
pahanya.
Ntar Ric, gue mau ngelepas CD dulu nih.
Rico pun menghentikan remasan tangannya, namun tidak kuluman mulutnya.
Udah dong, berhenti bentar aja, Shelvi berusaha melepaskan kuluman Rico
di payudaranya yang sudah terlihat dipenuhi beberapa bercak-bercak
merah.
Rico pun menurut, namun bukan berarti payudara montok itu bisa terbebas
begitu saja.
Di saat Shelvi berusaha melorotkan celana dalam yang dikenakannya,
remasan tangan kanan Rico masih tetap bertengger di gundukan daging
kenyal tersebut.
Udah!, ucap Shelvi setelah meletakkan kain mungil penutup selangkannya
tersebut di sampingnya.
Gadis cantik itu pun kini yang ganti angresif memeluk tubuh Rico dan
mencium bibir laki-laki tersebut dengan ganas. Tak hanya itu kini
jari-jari mungil Shelvi juga secara bersamaan dengan telaten
mengocok-ocok batang penis Rico yang telah menegang.
Shelvi memang sengaja mengatur posisi tubuhnya agar menghadap ke arah
Reisha.
Sambil berciuman dan bermain lidah, Shelvi tetap intens sesekali melirik
ke arah sahabatnya tersebut. Kini Reisha sudah tidak mampu lagi
menutupi gairah birahi yang menyerangnya akibat melihat live show yang
terjadi di hadapannya.
Tangan Reisha mulai bergerak merabai dadanya sendiri, sambil tetap
menggesek-gesekkan kedua pahanya. Senyum Shelvi pun semakin lebar karena
berhasil memancing gairah Reisha.
Ric, lu ML ama Reisha dulu ya, ntar baru ama gue, bisik Shelvi di
telinga pacarnya.
Dia kan tadi udah nggak mau Vi?, sahut Rico ditengah remasan tangannya di payudara pacarnya tersebut.
Udah, ntar gue yang ngatur deh.
Emang lu nggak cemburu Vi, gue ML ama temen lu?.
Nggaklah, kan gue yang nyuruh, lagian itung-itung sekalian gue ngasi bonus ke lu juga ke Reisha.
OK deh, asal lu nggak apa-apa aja.
Shelvi pun membuka kaos Rico sehingga kini mereka berdua pun telah
benar-benar dalam keadaan telanjang. Kemudian setelah mencium bibir
pacarnya tersebut, Shelvi pun beranjak turun dari ranjang dan kembali
menghampiri Reisha. Rico sendiri terlihat mengambil posisi terbaring
santai di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Sha, ayo dong kita bareng yuk.
Nggak Vi, kembali Reisha menolak.
Ayo dong, gue tau lu sekarang udah horny kan?, desak Shelvi lagi.
Gue malu Vi.
Napa musti malu? Kan ada gue disini?.
Iya sih.
Sha, gue tau lu udah lama banget nggak ML sejak lu putus ama cowok lu,
gue cuma mau bantu lu nyalurin birahi lu.
Tapi itu kan cowok lu Vi?.
Halah, lu nggak enak ama gue? Kan gue yang nyuruh lu? Cowok gue juga
asyik-asyik aja kok, lagian kucing mana sih yang nolak kalo di kasi
ikan? Hehe.
Reisha tidak tahu harus berkata apa lagi.
Apa yang dikatakan Shelvi tadi memang benar adanya. Sudah hampir setahun
ia tidak lagi bisa merasakan hangatnya persetubuhan. Apalagi kini
mendekati tanggal-tanggal krusial menjelang menstruasi, dimana gairah
dan hormon kewanitaannya mulai memuncak tak terkendali. Ingin sekali
rasanya ia melepaskan semua beban birahi di dalam dirinya ini dengan
bercinta bersama seorang laki-laki.
Tapi kalau dia harus menyalurkannya dengan cara bersetubuh bersama pacar
sahabat baiknya sendiri, hal ini tentu sesuatu yang benar-benar di luar
akal sehat. Namun di sisi lain, bukankah justru sahabat baiknya inilah
yang memintanya untuk melakukan persetubuhan? Jadi siapakah sebenarnya
yang gila dalam hal ini?
Ayo Sha, Shelvi menarik tangan Reisha dan kali ini gadis cantik itu
nampak tidak melakukan perlawanan lagi.
Ketika kedua gadis itu berdiri di pinggir ranjang, Rico hanya tersenyum
kecil ke arah Reisha. Di dalam hati kecilnya, laki-laki tersebut cukup
mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Reisha. Dalam hal ini tentu ia
sangat mensyukuri karena bisa memacari Shelvi yang memiliki fantasi
sensual yang liar, sehingga sebentar lagi mungkin ia akan segera bisa
menikmati tubuh sahabat pacarnya ini tanpa perlu melakukan
perselingkuhan di belakang pacarnya.
Ric, lu rangsang dikit Reisha gih!.
Rico pun berdiri dan mendekati Reisha. Tubuh Reisha terlihat bergetar
ketika seorang laki-laki dalam keadaan telanjang bulat kini berlahan
mendekatinya. Reisha sempat melirik nakal ke arah batang penis Rico.
Batang tegang itu terlihat sangat besar untuk membuatnya bergidik dan
membuat selangkangannya terasa senut-senut. Ia tidak bisa membayangkan
rasa sakit yang akan menyerangnya jika batang besar itu harus masuk ke
dalam dirinya.
Vi, Reisha memegang tangan sahabatnya, ketika Rico semakin mendekat.
Udah, anggep aja Rico itu cowok lu.
Tapi Vi, belum sempat Reisha melanjutkan kata-katanya Rico sudah keburu
memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya.
Reisha pun gelagapan dibuatnya, walaupun ia sama sekali tidak menolak
bibir Rico yang kini terus menyerang bibirnya. Awalnya Reisha terlihat
kikuk, namun beberapa saat kemudian ia pun mulai membalas pagutan bibir
Rico.
Apalagi ketika kemudian gadis cantik itu merasakan sentuhan lembur
Shelvi di pundaknya, Reisha pun tidak malu lagi membalas permainan lidah
Rico di mulutnya. Reisha yang memang sejak semula telah terbakar nafsu
birahi membuat Rico tidak perlu terlalu bekerja keras untuk
membangkitkan sisi liar gadis cantik tersebut.
Shelvi sendiri kini masih berdiri di belakang Reisha sambil
meremas-remas payudara sahabatnya tersebut dari balik kaos. Kemudian
dengan cekatan kedua tangan gadis tersebut masuk ke dalam kaos Reisha.
Berlahan jari-jari Shelvi bergerak membuka kaitan bra berwarna putih
tanpa renda yang dikenakan sahabatnya.
Kini remasan tangan Shelvi pun dapat langsung merasakan kelembutan dan
kekenyalan payudara Reisha.
Diserang dari dua arah seperti ini membuat Reisha kian melambung. Aaah
oooh!, cuma lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut gadis cantik
tersebut, ditengah lumatan bibir Rico.
Saking terbelenggunya oleh nafsu membuat Reisha sama sekali tidak
melawan ketika Rico menggiringnya berbaring di ranjang. Bahkan saking
terbuainya oleh cumbuan pacar sahabatnya tersebut, Reisha sama sekali
tidak menyadari kalau kini tubuh atasnya saat ini sudah sama sekali
tidak tertutup apapun.
Shelvi melemparkan kaos berikut dengan bra milik Reisha sehingga kedua
potong pakaian tersebut kini tergeletak di lantai. Hal ini membuat Rico
menjadi leluasa mengulum dan menghisap kedua payudara milik Reisha.