Kumpulan Cerita Sex , Cerita Seks Dewasa, Cerita Dewasa , Cerita Seks , Cerita Seks Remaja , Cerita Sex Sedarah , Cerita Sex Hot Cerisex Terbaru 2015 – Cerita Sex: Windy Mahasiswi Pemalu
– Nama saya Dino. Saya mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama di
Surabaya. Saya adalah anak kembar (tetapi bukan kembar identik). Saudara
kembar saya bernama Doni, dan dia juga kuliah di tempat yang sama
dengan saya.
Cerita Sex: Windy Mahasiswi Pemalu –Sebelum kuliah di Surabaya, Doni kuliah di perguruan tinggi di
Jakarta. Di sana, ia mempunyai seorang pacar bernama Windy. Setelah
setahun kuliah di Jakarta, Doni dan Windy tidak betah, dan akhirnya
mereka berdua pindah ke Surabaya (di universitas & fakultas yang
sama).
Ketika pertama kali saya bertemu dengan Windy, saya terpana dengan
parasnya yang cantik. Saya merasa Doni sangat beruntung mendapatkan
pacar seorang gadis yang cantik seperti Windy. Memang, Doni bercerita
bahwa Windy merupakan rebutan cowok-cowok di kampusnya (baik di Jakarta
maupun Surabaya). Ketika bersalaman dengannya, saya tidak dapat
melepaskan pandangan dari wajahnya yang sangat cantik dan imut itu.
Setelah perkenalan pertama dengan Windy, dia selalu terbayang dalam
pikiranku. Apalagi Windy sering main ke rumah kami (o iya, saya dan Doni
tinggal berdua di sebuah rumah di Surabaya). Setiap Windy datang ke
rumah, saya pasti merasa deg-degan. Seakan-akan Windy adalah pacar saya
sendiri (apa karena Doni dan saya kembar, jadi saya merasakan hal ini
ya?). Kadang-kadang, Doni & Windy suka berduaan di kamar Doni, dan
saya sering mendengar mereka cekikikan berdua di kamar. Saya jadi merasa
iri dengan Doni. Saya belum pernah punya pacar sejak dulu. Memang
dibanding Doni, saya anaknya agak lebih pendiam. Saya tetap punya
teman-teman cewek, tapi bukan pacar.
Suatu kali, Doni sedang pergi keluar kota bersama teman-temannya
untuk beberapa minggu (hampir sebulan kalau tidak salah). Windy tetap di
Surabaya, karena dia mengambil semester pendek. Saya sempat merasa agak
kesepian juga di rumah, karena saya hanya sendirian saja. Apalagi kalau
Doni tidak di sini, berarti Windy juga nggak akan datang ke rumah saya
kan?:(
Baca juga: Aku dijadikan pelacur
Nah, pada suatu siang di rumah, tiba-tiba saya seperti mendengar
suara motor Windy dari kejauhan. “Ah, aku pasti terlalu merindukan
kehadiran Windy”, pikirku, sampai suara motor lewat pun saya sangka
suara motor Windy.
Eh, ternyata suara motor itu memang menuju ke rumahku, and guess
what, itu memang Windy! Dia mengenakan kaos ketat berwarna oranye-biru,
dan celana jeans ngatung yang juga ketat. Sunggu menggairahkan sekali
penampilannya saat itu. Saya gembira campur bingung, kenapa Windy datang
ke sini, padahal Doni kan lagi pergi?
“Halo Dino.. Sendirian aja ya di rumah? Kasian, ditinggal Doni
sendirian. Pasti sepi ya?”, kata Windy sambil menuntun motornya masuk.
“Iya nih Win, sendirian terus tiap hari. Kamu tumben dateng ke sini? Ada angin apa Win?”
“Ini No, aku mau ngambil catetanku yang dulu dipinjem Doni. Soalnya ada perlu buat semester pendek.”
“Ooo.. kalo gitu masuk aja Win. Aku kurang tau di mana Doni nyimpen catetanmu. Liat aja di kamarnya.”, jawabku lagi.
Windy pun masuk ke kamar Doni dan mencari catetannya di laci meja
komputer Doni. Sepertinya dia memang sudah tau kalau Doni menyimpannya
di sana. Untuk membuka laci itu, dia mesti agak membungkuk. Ketika
membungkuk, bagian belakang baju kaosnya agak terangkat, dan tampaklah
olehku punggungnya yang putih mulus. Wahh.. walaupun hanya sedikit yang
tampak, tapi itu sudah membuat pikiranku melayang dan otomatis penisku
pun ikut berdiri.
“Udah dapet nih No, catetannya.”, kata Windy kepadaku.
“Oh, di sana ternyata dia simpen ya? Oke deh. Itu aja yang perlu Win?”,
kataku dengan agak sedikit kecewa, karena kalau memang hanya itu tujuan
dia ke sini, berarti dia udah mau balik dong..?
“Iya, ini aja. Aku pulang dulu deh ya No.”
Yaahh.., sebentar banget aku sempat ketemu dengan Windy,
pikirku.:((Kemudian Windy keluar menuju motornya. Di depan motornya aku
melihat dia menggantungkan sebuah tas yang agak besar.
“Bawa apaan tuh Win?”, tanyaku sama Windy.
“Oh, ini? Sebenarnya setelah ini aku bukan mau pulang sih. Aku
rencananya mau ke tempat temenku. Numpang mandi. Abis, air di kosku lagi
habis. Sumurnya kering No. Wah, jadi ketauan deh kalo aku belum mandi
nih.. Jadi malu..”, kata Windy dengan agak malu-malu.
Wah.., kesempatan nih!
“Kenapa nggak mandi di sini aja Win? Airnya banyak kok di sini.
Daripada repot-repot ke tempat temenmu lagi. Gimana? Mau?”, cecarku
dengan penuh semangat (campur nafsu:)
“Mmm.., nggak apa-apa nih No?”, tanya Windy agak ragu.
“Nggak apa-apa kok. Bener. Suwer. Samber geledek.”, jawabku dengan sedikit bercanda.
“Ya oke deh kalo gitu. Aku numpang mandi ya..”
Yess.. Akhirnya aku punya kesempatan untuk bersama Windy lebih lama
lagi.. Windy langsung masuk lagi menuju kamar mandi. Aku hanya dapat
membayangkan apa yang terjadi di dalam kamar mandi itu. Aku membayangkan
Windy membuka baju ketatnya, dan melepaskan celana jeansnya. Aku
membayangkan bagaimana tubuh seksi Windy hanya berbalutkan BH dan celana
dalam saja. Hhhmm.. penisku langsung tegang dengan sendirinya tanpa
perlu kusentuh. Sedang enak-enak melamun, tiba-tiba pintu kamar mandi
Windy terbuka. Oh, ternyata Windy masih mengenakan pakaiannya, tidak
seperti dalam bayanganku.
“Dino, aku bisa pinjem handuk nggak? Aku lupa bawa nih. Sori ya ngerepotin.”
“Oh, nggak apa-apa. Ntar ku ambilin.”
Ketika aku memberikan handukku kepada Windy, terlihat tali BH Windy
yang berwarna hitam di bahunya. Walaupun itu hanya seutas tali BH di
bahu, tapi itu sudah cukup untuk membuatku berimajinasi yang bukan-bukan
tentang Windy.
“Makasih ya Dino..”, wah, suaranya benar-benar bisa membuatku terbang ke langit ketujuh..
“eh, iya..”, jawabku.
Lalu Windy masuk kembali ke kamar mandi. Tak lama kemudian sudah
terdengar suara cebyar-cebyur air. Aku tak dapat berhenti membayangkan
tubuh Windy yang telanjang.. Kulitnya pasti mulus.., putih.., dan
badannya sangat seksi sekali.. mmhh.. aku tak kuasa untuk menahan
nafsuku.. Aku masuk ke kamar, dan masuk ke kamar mandiku (letaknya tepat
di sebelah kamar mandi tamu tempat Windy mandi).
Di dalam kamar mandi, aku langsung melepaskan seluruh pakaianku dan
mengambil sabun untuk onani. Aku memegang penisku yang sudah sangat
tegang (rasanya belum pernah “dia” sebesar ini.Bayangan akan Windy
benar-benar telah membuatnya sangat keras..). Dengan sedikit sabun, aku
mulai meremas-remas penisku, dan pelan-pelan mulai mengocoknya
maju-mundur.. mm.. aku membayangkan ini adalah tangan Windy yang
mengocok penisku.. oohh Windy.. andaikan kamu mau mandi bersamaku di
sini.. hhmm.. Imajinasiku telah melayang ke mana-mana. Sedang
asyik-asyiknya onani, tiba-tiba pintu kamar mandiku diketuk dari luar.
“Dino.. Kamu lagi mandi ya? Sori mengganggu lagi. Kamu ada sabun cuci
muka nggak? Aku lupa bawa tadi..”, terdengar suara Windy memanggil.
Aku kaget! Wah, mana udah mau klimaks, eh Windy ngetuk pintu. Buyar
deh imajinasiku yang sudah kubangun dari tadi. Wah, pasti Windy sudah
pakai baju lengkap lagi seperti tadi, tidak telanjang seperti dalam
bayanganku. Tapi nggak apa-apa deh, kan aku bisa ngeliat Windy lagi
jadinya. Aku lingkarkan handuk di pinggangku untuk menutupi penisku yang
tegang, lalu aku ambilkan sabun cuci mukaku untuk Windy.
“Ini Win, sabun cuci mukanya”, kataku sambil membuka pintu.
Wahh.. ternyata Windy hanya mengenakan handukku yang kuberikan tadi,
bukannya berpakaian lengkap! Rejeki lagi nih! Dengan balutan handukku
yang tidak terlalu lebar itu, tampak kulitnya yang benar-benar putih
mulus. Handukku hanya menutupi dari dadanya sampai sekitar 15 cm di atas
lututnya. Tampak olehku pahanya yang begitu indah. Rambutnya yang basah
juga memberi efek yang membuatnya semakin kelihatan seksi.. Tanpa bisa
dibendung, penisku menjadi semakin tegang lagi..
“Makasih Dino.. Wah, bener-bener sori ya, jadi ngeganggu mandimu..”, kata Windy lagi.
“Ehm.., nggak apa-apa kok Win.”, jawabku terbata-bata karena nggak kuat menahan nafsuku..
Tanpa kusadari, penisku semakin menyembul dan membuat handukku hampir
copot. Jarakku dengan Windy waktu itu sangat dekat, sehingga penisku
yang sudah berdiri itu menyentuh bagian perut Windy (penisku dan perut
Windy sama-sama masih tertutupi handuk). Windy kaget, karena ada sesuatu
yang menekan perutnya.
“Eh, aku mandi lagi ya No.”, kata Windy buru-buru dengan muka yang memerah. Sepertinya dia malu campur bingung.
“Mmm, iya.., aku juga mau mandi lagi”, jawabku juga dengan penuh malu.
Windypun kembali ke kamar mandinya, dan aku juga masuk lagi ke kamar mandiku.
Di dalam kamar mandi aku berpikir, apa kira-kira tanggapan Windy atas
kejadian tadi ya? Apa dia akan lapor ke Doni kalau aku berbuat kurang
ajar? Apa dia marah sama aku? Atau apa? Aku jadi takut.. Setelah
termenung beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan apa
yang kukerjakan tadi. Masalah nanti ya urusan belakangan. Baru saja aku
mau mulai untuk onani lagi, pintu kamar mandiku diketuk lagi.
“Dino.., sori mengganggu lagi. Aku ada perlu lagi nih”, kata Windy dari luar.
“oh iya, bentar..”
Sekarang aku pakai CD & celana pendekku. Aku nggak mau terulang lagi kejadian memalukan tadi. Aku keluar dari kamar mandi.
“Ada apa Win? Apa lagi yang ketinggalan? Mau pinjem CD?”, candaku pada Windy.
“Ah, kamu ada-ada aja.”, kata Windy sambil tertawa. Hhh.., manis sekali
senyumannya itu.. Btw, dia masih mengenakan handuk seperti tadi.
Seksi..!
“Gini No.. Waktu aku minjem sabun cuci muka tadi, aku tau kalo kamu sempat.. mm.. apa ya istilahnya? Terangsang?”, kata Windy.
“Hah? Apa? Maksudnya gimana? Aku nggak ngerti?”, tanyaku pura-pura bego.
“Nggak apa-apa kok No. Nggak usah malu. Kuakui, aku tadi juga sempat membayangkan “itu” mu waktu aku masuk kamar mandi lagi.
Aku bahkan hampir saja mau.. mm.. masturbasi sambil mbayangin kamu.
Tapi kupikir, ngapain pake tangan sendiri, kalo “barang”nya ada di
sebelah?”, jawab Windy.
“Hhhaahh? Apa maksudmu Win? Aku jadi makin bingung? Aku nggak”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Windy sudah meraba penisku dari luar celana pendekku.
“Ini yang kumaksud, Dino! Burungmu yang tegang ini! Aku
menginginkannya!”, kata Windy sambil terus meraba-raba dan meremas
penisku.
“hhmm.., Windy.. kamu..”
“Dino.. Walaupun aku pacarnya Doni, kamu nggak usah malu begitu. Sejak
bertemu denganmu di Djokdja ini, aku selalu membayangkanmu dalam setiap
fantasi seksku. Bukannya aku nggak cinta Doni. Tapi dengan membayangkan
sesuatu yang “tabu”, biasanya aku selalu menjadi begitu terangsang, dan
selalu kuakhiri dengan masturbasi sambil membayangkan bercinta dengan
saudara kembar pacarku sendiri.
Dino.. saat ini sudah lama kutunggu-tunggu. Aku selalu membayangkan
bagaimana rasanya mengulum burungmu dalam mulutku. Bagaimana rasanya
memainkan burungmu dalam vaginaku.. hhmm.. You’re always on my fantasy,
Dino..”, cerocos Windy sambil semakin kuat meremas penisku (masih dari
luar celana pendekku).
“Ohh.., oohhmm.., Windy.. Aku.., juga.. selalu membayangkanmu dalam
setiap onaniku. Aku nggak tahan melihat kecantikan dan keseksianmu,
sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku cemburu dengan Doni. Aku
selalu membayangkan tubuhmu yang putih, halus, lembut, dan seksi ini..
Aku menginginkanmu Windy..”, jawabku sambil meraba bahu dan tangannya
yang begitu halus dan lembut.
Kemudian tanpa berpikir lagi, aku raih rambutnya dan kutarik mukanya
ke mukaku, dan kucium Windy dengan buas. Kulumat bibirnya yang merah dan
mungil itu. Inilah pengalaman pertamaku mencium wanita. Rasanya
benar-benar nikmat sekali. Apalagi tangannya masih terus meremas penisku
yang sudah berdenyut-denyut dari tadi.
“Hmmpp.., mmhhmmhh..”, Windy juga membalas ciumanku dengan lumatan bibirnya dan lidahnya bermain-main di dalam mulutku.
Aku terus menghisap bibir & lidahnya, dan tanganku mulai meraba
payudaranya yang masih tertutup handuk. Payudaranya cukup besar.
Belakangan kuketahui ukurannya 34B. Terasa putingnya yang mengeras dari
balik handuk.
“Ohh.. Dino.. remas susuku! Remas, Dino.. Ohhmmhh..”,
desah Dino di telingaku, semakin membuatku bernafsu.. Tanpa pikir
panjang, langsung kulepaskan handuk Windy, sehingga tampaklah di depan
mataku keindahan tubuh telanjang Windy yang selama ini hanya ada dalam
fantasiku.
“Windy.. kamu sunguh-sungguh cantik.. Aku menginginkanmu..”.
Aku pun langsung menerkamnya dan tanpa membuang waktu langsung
kuhisap payudaranya yang bulat & padat itu. Sebelumnya aku hanya
dapat membayangkan betapa indahnya payudara Windy yang sering mengenakan
kaos ketat itu. Bahkan pernah sekali dia mengenakan kaos ketat tanpa
BH, sehingga tampak samar-samar putingnya yang merah olehku waktu itu.
“Dino.. Mmmhhmm.. Kamu benar-benar hebat Dino.. Bahkan Doni tidak
pernah bisa membuatku jadi gila seperti ini.. Ooohh.. hisap putingku
Dino. Jilat.. hhmm..” jerit Windy yang sudah benar-benar penuh nafsu
birahi itu.
Aku terus menjilati dan menghisap payudaranya, dan sekali-sekali
kugigit karena gemas, sehingga payudaranya menjadi merah-merah. Tapi
Windy tidak marah, malah sepertinya ia sangat menikmati permainan
mulutku.
Bosan bersikap pasif, Windy pun melepaskan celana pendekku dengan
penuh nafsu, sehingga tampaklah olehnya penisku yang sudah berdiri tegak
hingga keluar dari pinggang celana dalamku.
“Besar sekali burungmu Dino! Wow.. Lebih besar dari pacarku yang
dulu. Bahkan lebih besar dari punya Doni! Kukira punya sudah yang
terbesar yang ada!”, puji Windy dengan mata berbinar ketika melihat
penisku.
Windy menarik CDku hingga lepas, berlutut di depan penisku dan langsung menjilati telorku yang penuh bulu itu.
“Aahhmm.. enak sekali Windy..! mmhhmm.. Kamu memang hebat sekali..”,
aku meracau kenikmatan sambil terus membelai rambutnya yang indah.
“oohhmm.. aku suka sekali burungmu Dino.. besar, panjang, dan hitam.. oohhoohhmm..”,
Windy memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil, dan menghisapnya dengan kuat.
“Ahh.., Windy.. AAhhmmhh..”,
aku benar-benar dalam puncak kenikmatan yang belum pernah kurasakan
sebelumnya. Kenikmatan onani hanyalah sepersekian dari kenikmatan
dihisap dan dijilat oleh mulut dan lidah Windy yang sedang mengulum
penisku ini.
Windy dangan penuh semangat terus menghisap penisku, dan karena ia
memaju mundurkan kepala & badannya dengan kencang, tampak olehku
payudaranya bergoyang-goyang kesana kemari.
Ketika aku hampir mencapai klimaks, langsung kutarik penisku dari
mulutnya, dan kupeluk Windy erat-erat sambil menjilati & menciumi
seluruh mukanya. Mulai dari keningnya, matanya, hidungnya yang mancung,
pipinya, telinganya, lehernya, dagunya, dan kuteruskan ke bawah sampai
akhirnya seluruh tubuhnya basah oleh air liurku dan di beberapa tempat
bahkan sampai merah-merah karena hisapan dan gigitan gemasku. Windy
benar-benar menikmati perlakuanku terhadap tubuhnya, terutama ketika aku
menjilati dan menghisap daun telinganya. Dia benar-benar merinding
ketika itu.
“oohh Dino.., kamu hebat sekali.. Belum pernah ada sebelumnya yang
bisa membuatku orgasme tanpa perlu menyentuh vaginaku. Ohhmm.. you’re
the greatest..!”, kata Windy lagi.
Setelah beristirahat sejenak, aku mulai menjilati vagina Windy.
“Dinoo.. nikmat sekali.. kamu hebat sekali memainkan lidahmu.. mmhhmm..
aahhgghh..”, Windy benar-benar menikmati permainan lidahku yang
mengobok-obok vaginanya dengan buas.
“Windy.., boleh aku memasukkan penisku ke dalam” belum selesai kata-kataku, Windy langsung memotong.
“Nggak usah minta ijin segala, masukin burungmu yang gede itu ke
vaginaku cepat, Dino!”, potong Windy sambil memegang penisku dan
mengarahkannya ke lobang vaginanya.
“Ahh.. sempit sekali Windy.. Mmmgghh..”, vaginanya benar-benar menjepit
penisku dengan kencang sekali, sehingga sensasi yang kurasakan menjadi
benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata. Pokoknya enak banget!!
“Ooohh Dino.. burungmu besar sekali!! HHhhmmhh.. aahh.. nikmat sekali Dino!”
Perlahan-lahan, aku pun mulai menggoyangkan pantatku sehingga penisku
yang gede dan hitam mulai mengocok-ngocok vaginanya. Windy pun juga
menggoyangkan pantatnya yang putih mulus itu sehingga makin lama
goyangan kami menjadi semakin cepat dan buas.
“Diinoo.. hh.. hh.. hh.. aku suka burungmu! mmhh.. lebih cepat, cepat.. keras.. aku.. hhoohhmmhh..”,
racauan Windy makin lama makin tidak jelas.
“Aku hhaammpir keluuaar.. Winddyy.. hhmmhh..”,
campuran antara goyangan, desahan, dan tampang Windy yang benar-benar
seksi, merangsang, dan penuh keringat itu membuatku nggak tahan lagi.
“Keluarkan di dalam saja, Dino.. Aku jugaa.. mauu.. sampai.. hh..”.
“AAHHMMHH.. AARRGGHH.. OOHHMMHH.. NIKMAAT SEKAALLII.. AAHHMMHH..!!” kami berdua mencapai klimaks pada saat yang bersamaan.
Setelah permainan yang dahsyat itu, kami sama-sama terlelap di kamarku.
Sewaktu terbangun ternyata hari sudah malam. Windy langsung pulang
karena takut kos-kosannya sudah dikunci kalau kemalaman. Tapi kami
berjanji untuk bertemu lagi esok hari, karena kami berdua masih ingin
melanjutkan hubungan yang
“tabu” ini. Kami sama-sama menikmatinya. HHmm.. Can’t wait ’til tomorrow comes..